MARHABAN YA RAMADHAN
05 Agu 2010 Komentar Dimatikan
Tidak terasa bahwa beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan yang penuh berkah dan ampunan. Setiap orang yang beriman pasti akan menyambut bulan suci ini dengan rasa sukacita dan penuh kegembiraan.
Ada baiknya untuk menyegarkan kembali ingatan kita dalam rangka meningkatkan motivasi dan kegembiraan mengarungi bulan keberkahan ini dengan membaca kembali khutbah yang dibacakan Rasulullah tatkala memasuki bulan Ramadhan sebagai berikut:
Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.
Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.
Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.
Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.
Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.
Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”
Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”
Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kai-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.
Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin k.w. berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.
Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.”
“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.”
“Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.”
“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”
Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”
“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”
“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.”
“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”
“Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Huzaimah).
Oleh karena itu, agar kita sukses dalam meraih berbagai peluang yang ada di bulan suci Ramadhan tahun ini, sebaiknya kita mempersiapkan hal-hal sebagai berikut:
Pertama, Persiapan iman. Salah satu tujuannya agar kita dapat menstabilkan kualitas keimanan kita bukan hanya di bulan Ramadhan yang akan datang, tetapi juga untuk bulan-bulan selanjutnya.
Sejak bulan Rajab dan Sya’ban kita mulai membiasakan diri melakukan kebiasaan-kebiasaan ibadah, baik yang wajib maupun yang sunah, agar kebiasaan tersebut saat bulan Ramadhan tidak terasa berat karena dilakukan secara drastis. Bila tidak siap, akan terbukti seperti pada orang-orang yang hanya mampu meningkatkan intensitas ibadahnya pada awal-awal Ramadhan saja. Memasuki pertengahan apalagi akhir, kebiasaan ibadah orang tersebut akan kembali seperti di hbulan-bulan lainnya.
Kedua, persiapan fisik. Sebetulnya dengan melakukan persiapan pertama, yakni keimanan, maka sebetulnya kita juga sekaligus mempersiapkan fisik. Persiapan fisik tersebut maksudnya agar tubuh kita kuat dalam melakukan berbagai aktifitas ibadah baik yang mahdhah maupun yang ghair mahdhoh (baca: kehidupan sehari-hari). Tentu orang yang di bulan Rajab dan Sya’ban terbiasa shaum sunnat, qiyamul lail dan ibadah lainnya, maka hal itu akan membentuk tubuh yang kuat dan terbiasa melakukan shaum dan tarawih, meski di nsiang hari tetap berikhtiar dan melakukan aktifitas seperti biasa. Tidak akan terjadi bagi orang yang siap secara fisik, saat bulan Ramadhan kegiatannya menjadi berkurang apalagi dihilangkan. Tidak akan ada orang yang saat sesudah Shalat Zhuhur memenuhi masjid dengan tidur-tiduran sambil merasakan rasa haus dan lapar.
Ketiga, persiapan harta. Harta yang harus disiapkan bukanlah harta untuk memperbanyak porsi makanan saat sahur agar siang tidak kelaparan atau saat berbuka karena “dendam” kepada klapar dari semenjak siang. Bukan pula untuk bermewah-mewahan saat memasuki hari Raya Idul Fitri (Lebaran). harta yang harus kita siapkan adalah modal kita untuk memperbanyak sedekah dan menyiapkan persediaan makan dan keperluan pokok lainnya saat kita mengurangi porsi mencari nafkah dengan memperbanyak ibadah. terutama menjelang akhir-akhir Ramadhan dimana kita sangat dianjurkan untuk melaksanakan ibadah i’tikaf di masjid.
Keempat, persiapan ilmu. Tidak dipungkiri bahwa ibadah di bulan Ramadhan memerlukan pengorbanan baik fisik maupun mental secara maksimal. Oleh karena itu agar yang kita lakukan merupakan ibadah yang benar-benar bermanfaat dan dapat dipetik hasilnya sebagaimana yang kita harapkan, maka tentu tata cara ibadah yang kita lakukan juga harus berdasarkan aturan-aturan yang sudah digariskan oleh Rasulullah. Apalagi shaum dan segala ibadah di dalamnya sebagian besar merupakan ibadah mahdhah yang mau tidak mau harus sesuai tuntunan Rasulullah SAW.Jangan sampai kita termasuk orang yang “Barang siapa beramal bukan atas perintah kami, maka ia akan ditolak”.
Oleh karena itu, kita jangan merasa puas dengan banyaknya pengalaman Bulan Ramadhan di tahun-tahun yang lalu. Mari kita perbanyak lagi pengetahuan dan wawasan, atau bahkan mengecek kembali dasar hukum yang benar (sahih) atas segala amalan yang biasa kita kerjakan, baik dengan membaca berbagai rujukan maupun bertanya dan berdiskusi dengan orang-orang yang banyak ilmunya.
Semoga pada Ramadhan kali ini, kita dapat meraihnya sebagai Ramadhan yang paling baik dibanding ramadhan-ramadhan yang telah kita lalui sebelumnya. Dan semoga ke-fitrian kita dapat kita jaga di bulan-bulan selanjutnya. Amin.
Wallahu a’lam bisshawab.